Archive | November, 2013

Dimana Posisi Etis Dokter Hewan Menyikapi Klien Pemelihara Satwa Liar?

15 Nov

Salam lestari,

Para kolega yang aktif berkarya di satwa liar  mungkin pernah suatu ketika dihubungi oleh kolega praktisi lainnya untuk konsultasi tentang pasien mereka, yang ternyata satwa liar yang dipelihara oleh kliennya. Saat itu mungkin kita merasa senang bisa berbagi dan menolong kolega lainnya untuk menyelesaikan kasus. Bisa dari hal kecil seperti identifikasi hewan, deskripsi karakteristik dan perilaku, bagaimana cara handling ataupun restrain, tips untuk diagnosa hingga cara terapi. Tetapi jika kita melihat ke poin awal bahwa itu adalah satwa liar yang dipelihara, mungkin kita akan kaget melihat jumlahnya mulai cukup signifikan dan beragam hewannya,seakan-akan mulai menjadi tren.

Menurut pengalaman pribadi saya baik dari diskusi ringan dengan kolega praktisi (biasanya yang di hewan kecil) maupun  kolega yang di satwa liar, jumlah satwa liar yang dipelihara dan dibawa periksa ke dokter hewan cukup banyak. Mungkin dalam kurun waktu 3tahun belakangan ini sudah sampai puluhan kasus, tersebar di kota besar maupun kota kecil. Hewan yang beragam mulai dari jenis-jenis reptil, burung tertentu yang tidak umum, musang, hingga primata mulai dari monyet ekor panjang hingga yang langka seperti kukang, lutung, owa, siamang bahkan orangutan. Kasus yang ditangani juga cukup beragam, tetapi biasanya yang terlihat umum seperti rhinitis,diare, luka trauma, sampai yang terberat adalah tetanus. Kemudian ada juga semacam permintaan khusus dari klien yang sering terjadi seperti permintaan cabut kuku, cabut/potong/pangkur taring, hingga vaksinasi. Hal yang positif yang bisa kita lihat adalah kesadaran merawat kesehatan para pemilik hewan cukup baik. Akan tetapi jika hewan yang dirawat adalah satwa liar dan terkadang juga satwa liar yang dilindungi, ini sangat menyedihkan.

Menurut UU, definisi Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air, dan/atau di udara. Sedangkan definisi Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat, dan/atau di air, dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar, baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. Sebagai referensi, berikut adalah beberapa peraturan yang menyinggung soal memelihara satwa liar:
1. UU no.5 tahun 1990 Pasal 21:
1) Setiap orang dilarang untuk :
a. mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagianbagiannya dalam keadaan hidup atau mati;
b. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.
(2) Setiap orang dilarang untuk :
a. menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup;
b. menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan meperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati;
c. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
d. memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
e. mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.

2. Diperjelas juga dalam PP no.8 tahun 1999

BAB IX
PEMELIHARAAN UNTUK KESENANGAN
Pasal 37
(1) Setiap orang dapat memelihara jenis tumbuhan dan satwa liar untuk tujuan kesenangan.
(2) Tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan pemeliharaan untuk kesenangan hanya dapat dilakukan terhadap jenis yang tidak dilindungi.
Pasal 38
Menteri menetapkan batas maksimum jumlah tumbuhan dan satwa liar yang dapat dipelihara untuk
kesenangan.
Pasal 39
(1) Tumbuhan dan satwa liar untuk keperluan pemeliharaan untuk kesenangan diperoleh dari hasil
penangkaran, perdagangan yang sah, atau dari habitat alam.
(2) Pengambilan tumbuhan liar dan penangkapan satwa liar untuk keperluan pemeliharaan untuk
kesenangan diatur lebih lanjut oleh Menteri.
Pasal 40
(1) Pemelihara jenis tumbuhan dan satwa liar untuk kesenangan, wajib :
a. memelihara kesehatan, kenyamanan, dan keamanan jenis tumbuhan atau satwa liar
peliharaannya;
b. menyediakan tempat dan fasilitas yang memenuhi standar pemeliharaan jenis tumbuhan dan
satwa liar.
(2) Ketentuan pelaksanaan mengenai kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih
lanjut dengan Keputusan Menteri.
Pasal 41
(1) Pemerintah setiap 5 (lima) tahun mengevaluasi kecakapan atau kemampuan seseorang atau
lembaga atas kegiatannya melakukan pemeliharaan satwa liar untuk kesenangan.
(2) Untuk keperluan evaluasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), pemelihara satwa liar wajib
menyampaikan laporan berkala pemeliharaan satwa sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh
Menteri.

Di sisi lain, kita juga perlu merujuk ke animal welfare, maka ada 5 freedoms :
1. Freedom from thirst and hunger
2. Freedom from discomfort
3. Freedom from pain, injury and disease
4. Freedom to express most normal behaviour
5. Freedom from fear and distress  

Hal tersebut juga diaptasi dalam UU no. 18 tahun 2009 yang kemudian juga bisa dijadikan acuan untuk menerapkan KUHP pasal 302 tentang penganiayaan hewan yang berbunyi:
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan:
1. barang siapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya;
2. barang siapa tanpa tujuan yang patut atau dengan melampaui batas yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makanan yang diperlukan untuk hidup kepada hewan, yang seluruhnya atau sebagian menjadi kepunyaannya dan ada di bawah pengawasannya, atau kepada hewan yang wajib dipeliharanya.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan.
(3) Jika hewan itu milik yang bersalah, maka hewan itu dapat dirampas.
(4) Percobaan melakukan kejahatan tersebut tidak dipidana.”
Secara awam, tugas dokter hewan adalah mengobati hewan. Menerapkan animal welfare juga termasuk salah satu tugas dokter hewan. Bisakah kita berasumsi bahwa memelihara satwa liar  digolongkan tidak animal welfare dan cenderung menganiaya hewan (tanpa melihat lebih lanjut  kondisi hewan ketika dipelihara)? Jika tindakan memelihara satwa liar adalah tindakan melanggar hukum (sesuai hukum, peraturan dan perundangan yang berlaku), dimana posisi dokter hewan yang etis untuk menyikapi pasien satwa liar yang dipelihara seorang klien secara ilegal? Sejauh mana toleransi pengamalan profesi dokter hewan dalam upaya penegakan hukum terkait pemeliharaan satwa liar yang ilegal?

Menurut UU no.18 tahun 2009, dokter hewan adalah orang yang memiliki profesi di bidang kedokteran hewan, sertifikat kompetensi, dan kewenangan medik veteriner dalam melaksanakan pelayanan kesehatan hewan. Dalam UU tersebut tidak dijelaskan dengan rinci soal peran dokter hewan dalam konservasi satwa liar, kebanyakan poin yang menyinggung tentang satwa liar dan konservasi langsung dikaitkan dengan UU yang lebih spesifik (dalam hal ini UU no. 5 1990). Kemudian menurut Kode Etik Dokter Hewan yang ditetapkan pada Kongres PDHI 16 tahun 2010 (saya kurang tahu jika memang ada ketetapan terbaru) disebutkan juga bahwa:

Pasal 3
Dokter Hewan tidak akan menggunakan profesinya bertentangan dengan perikemanusiaan dan
usaha pelestarian sumber daya alam.

Dengan penjelasan :
Sebagai Dokter Hewan dengan kewenangan khusus profesi medis wajib bersifat luhur yaitu mengutamakan kemanusian di atas kepentingan pribadi serta berhati-hati dalam tindakan dan keputusannya yang berdasarkan pertimbangan ilmiah medis veteriner untuk resiko-resiko yang bahkan dapat memusnahkan sumberdaya alam hewani kita yang justru menjadi kekayaan bangsa.

Berdasarkan peraturan-peraturan yang ada, tampaknya memang belum jelas diatur permasalahan tentang bagaimana peran dokter hewan di semua lini untuk mendukung usaha pelestarian satwa liar. Di sisi lain, tren memelihara hewan eksotik juga semakin meningkat dan menjamur akhir-akhir ini. Dengan definisi singkat dari hewan eksotik sendiri dikatakan hanya hewan yang tidak lazim dan tidak umum serta lebih luasnya dikatakan bahwa hewan eksotik adalah hewan liar yang dijadikan hewan kesayangan, makin menjadikan banyak orang berdalih memelihara satwa liar. Maka semakin banyak pula orang yang membawa piaraan satwa liarnya ke dokter hewan praktik. Pada situasi ini,  kebanyakan dokter hewan praktisi akhirnya mau tidak mau melayani permintaan klien-klien yang membawa piaraan satwa liarnya yang ilegal. Jika hanya berhenti dengan pemeriksaan kesehatan dan terapi mungkin masih masuk akal. Karena terkadang juga ada permintaan khusus seperti pencabutan/pemotongan/pemangkuran taring dan kuku serta vaksinasi dan dilakukan oleh kolega-kolega tertentu. Jika kita menggaris bawahi poin pencabutan/ pemotongan/ pemangkuran gigi sendiri sangat tidak animal welfare. Biasanya ini dijumpai di satwa seperti musang, tapi yang paling menyedihkan adalah untuk primata yang dilindungi seperti kukang,owa dan siamang terkadang juga umum ditemui dan memang setelah ditelisik merupakan produk dari layanan dokter hewan. Salah satu kepentingan taring untuk satwa-satwa seperti ini di alam adalah untuk pertahanan diri, bisa dibayangkan permasalahan yang terjadi ketika kita ingin mengembalikan mereka ke alamnya suatu saat nanti dalam usaha konservasi. Kemudian perdebatan masalah vaksinasi yang juga sering dilakukan. Belum banyak kejadian besar di alam yang mengharuskan satwa liar divaksin. Yang terjadi adalah mereka divaksin hanya  ketika telah dipelihara dan itupun belum jelas penyakit apa saja yang berpotensi terjadi, sehinigga vaksinasi yang dilakukan cenderung mengada-ada serta berpotensi mengganggu sistem imunitas alami satwa. Tindakan-tindakan yang dilakukan dokter hewan ini cenderung kontra dengan usaha konservasi satwa liar seperti yang tertulis pada pasal 3 kode etik dokter hewan.

Permasalahan yang terjadi adalah semua ini dimulai dari ketidaktahuan serta tidak adanya peraturan yang jelas. Walaupun dengan tanpa mengurangi rasa hormat, tentunya memang ada oknum yang sengaja dan mengerti tetapi tetap melakukannya. Tidak hanya sekedar terkait dengan hal-hal yang dibahas di atas, tetapi juga berpartisipasi dalam penjualan satwa liar ilegal dan ikut memeliharanya. Ada beberapa yang saya temui di media sosial, beberapa tidak sadar dan tidak mengerti kalau itu dilarang, beberapa sangat mengerti bahkan percaya diri dengan itu. Menyadari hal ini, ternyata peran dokter hewan di semua lini (salah satunya di praktisi hewan kecil) sangat dekat dengan persinggungan ini dan sangat berpotensi, baik untuk mendukung pelestariannya ataupun sebaliknya. Bagaimana peran profesi kita bisa diaplikasikan secara positif dalam usaha konservasi dengan adanya permasalahan ini?

Tidak semua dokter hewan mengerti tentang UU no.5 tahun  1990 beserta PP no.8 tahun 1999, begitu juga dengan ketetapan CITES serta IUCN yang di adaptasikan pada UU tersebut. Tidak semua dokter hewan tahu yang mana satwa liar dilindungi dan tidak dilindungi. Kemudian memang belum ada guideline ataupun “do and don’t” juga untuk kasus seperti ini. Sehingga tetap akan menjadi dilema juga buat semua dokter hewan ketika ada di posisi tersebut. Kalaupun kita mengambil keputusan untuk memeriksa dan memberi perlakuan si pasien, tidak semua dokter hewan mengerti (minimal) karakteristik dan perilaku satwanya. Terlebih ini biasanya satwa liar yang rata-rata masih hasil buruan di alam, sehingga bisa dipastikan naluri liarnya masih tinggi dan dapat membahayakan keselamatan diri serta satwanya apabila terjadi kesalahan tindakan. Andaipun kita mengerti bagaimana tipikal satwa-satwa tersebut, tidak semuanya paham tentang apa yang boleh dilakukan dan tidak pada satwa liar tertentu. Selain tidak ada guideline untuk hal tersebut, belum ada juga poin larangan tegas untuk tindakan-tindakan yang berkaitan dengan permasalahan ini. Walaupun beberapa oknum memang ada yang mengerti bahwa yang mereka hadapi adalah satwa liar yang dilindungi dan tindakan yang mereka lakukan (setidaknya) tidak sesuai animal welfare, mereka tetap melakukannya dengan dalih tidak ada ketentuan dan larangan soal itu. Terlebih tidak adanya sanksi sebagai efek jera. Sepertinya memang dirasa perlu ada peraturan yang jelas dan cukup teknis sebagai bentuk sinergi regulasi tentang konservasi satwa liar dengan kode etik profesi dokter hewan. Apalagi jika membahas mulai dari jenis-jenis satwa liar apa saja yang dilindungi maupun tidak, hal perlakuan apa saja yang boleh dan atau tidak boleh dilakukan pada satwa-satwa tersebut, himbauan untuk melakukan edukasi kepada klien tentang larangan memelihara satwa liar, himbauan melakukan rekam data dari klien-klien yang membawa pasien satwa liar  dan sanksi yang berlaku untuk  oknum yang melanggar.

Andai memang bisa terwujud, pastinya semua jadi lebih bagus,  baik untuk profesi kita serta kelestarian satwa liar kita. Ketika peraturannya sudah ada, tinggal melakukan sosialisasi ke kolega-kolega sebagai ujung tombak ke klien. bahkan sepertinya akan lebih baik juga untuk jadi lebih progresif dengan sosialisasi hingga ke calon dokter hewan.

Dengan tulisan ini, saya mengharap ada diskusi positif dari fenomena yang ada sehingga memunculkan ide-ide yang membangun, sebelum permasalahan ini jadi makin besar dan lumrah di mata kita semua. Maaf jika ada yang kurang berkenan dalam tulisan saya, karena saya masih dalam tahap belajar dan terus belajar. Apabila ada yang perlu dikoreksi dalam tulisan saya, saya sangat berterimakasih sekali.

Salam lestari

Advertisements

Wetlabs Workshop: Reptile Endoscopy

4 Nov

This I review you a great workshop that i attend in Singapore after the 6th meeting of ASZWM, well actually it is one of their extended workshop beside the rabbit workshop and orangutan satelite workshop trip. Basically i’m now tend to be a primate vet than more species especially reptile. But I’m heading for the reptile becuse i’m handling about 8 crocs in my place. The fact that there were no any crocs to overviewed, but snakes,lizzards and turtoise are quiet promising approach for the most reptile species. And remember, it’s endoscopy. Expensive,sophisticated and up to date tools for medicine world, including veterinary medicine nowaday. Well i’m in. I thought it would be better if i’m not just spending time for the conference in Singapore, but also feed my appetite of science and skills. Ok, here we goooo….

For a simple definition, endoscopy is a methode of less invasive and efficient surgery methode for some destination, such as many usual surgery technic and it has special ability just to look and explore abnormalities inside the body and doing biopsies sampling for further examination. It don’t need big incision, because we just insert a camera inside and some “helper direction” tools with a better view because things were projected in a monitor. It’s just like operating a robot hand (or maybe you’d remember playing a “doll vending machine”in the theme park). It just need couple of small incision (around 1cm). So smaller wound and less post surgery maintenance, less suture).

The workshop starts with some presentations theory as an introduction. There were the Storz equipment presentation, Introduction- Use of Endoscopy in Zoo Animals, Reptile Endoscopy: Upper Gastrointestinal Tract, Endoscopic Sexing and Desexing of Reptiles and Access Points of Reptile Endoscopy.

Storz equipment presentation by Jonathan Chen, a Storz sales representative. Well Storz is a well known company who manufactured many medical instrument including this great invention, endoscopy. This session talked more about endoscopic instruments, their parts, their principal works and operation steps. So I just knew that endoscopic instrument and system were actually begined with a telescope which put inside patient’s body. So it’s quiet difficult to operat huh?Then it’s improve by their digitalize mode, everything that shown inside by the scope were projected into a monitor, then the size of the tools were getting smaller andmore flexible. So basically there were 4 pillars of endoscopic instruments which is optics, mechanics, electronics, and software.coooooool……

Continued deeper to Introduction- Use of endoscopy in Zoo Animal. It’s Dr. Paolo Martelli speaking, this was very interesting. So my interest point on endoscopic eventhough it’s far from my works is beacuse this vets. Last year he made a sort of endoscopic live show presentation. He was doing the endoscopic spaying in a Macaque. Then he used to this to more than hundreds animal for wild population of macaque..So this is it. When a sophisticated tools really works and applicable in the field. I almost consider his offer to trained me endoscopic vasectomy in gibbon in my place. But somebody said it useless. Here again..tackled and tackled again. So.. In this presentation, he clearly told us many real problem during in endoscopic works with many videos. Totally practical things to learn actually, that is his special ability. He compare many results of endoscopic approach in each species. So cool..

Then  there was Dr. Sera Lai talking about her works in reptile’s upper gastrointestinal endoscopy. Seh showed many interesting case during his work with endoscopy, like spotting in parasite, some ulcer, and doing biopsies. She also shares many good and bad examples in endoscopic works.

Then Dr. Abraham Matthew explained about access point in reptile endoscopy. Some points is like coeloem cavity  in turtoise, oesophagus in reptile, cloacal cavity in most species and also special access that depends from our purposes. The most interesting parts of his words is he boldly mentioned the reptile species then followed by strong words about the decreasing numbers of the species in the nature but will become more to be seen in our practical work.Nice sarcastic  one.

Last but not least Dr.Bob Doneley talked about sexing and desexing by endoscopy in reptile. Well at that time i was so sleepy..I’m so sorry ( But basically it was the same like Dr. Abraham’s but more to sex organ.

After the introduction, we had a break for lunch. Then moved to the animal hospital to do the practice. The partcipants divide in 6 groups. Each groups got a general introduction practice first by Dr. Paolo. He explained how the preparation for the tools. Started with connecting the light into the camerat then adjusted the focus and whit-balance. When everything already sets, we were ready to work. So for the introduction, Dr. Paolo teach us how to adapt with the tools first. We were gave some task of endoscopic works inside a closed paper box as a simulation. Of course after he gave us the example first. Then  we continued the task for about an hour in Dr. Paolo supervised. So, endoscopy is just the same like any other surgery works, it’s all about team work in a more complex way. Important point: the way you handle the scope,your body posture while works, comunication, and keep every vision centered. We were gave some  task like to untie a knoted string, doing biopsy in a meat, then taking a sort of layered baloon. All of the task were done inside the box. Because it’s endoscopy. This is the  best way to improving our ability and skills in endoscopy experiencing. It’s better and easier than start it in a animal, lived or dead one..

After the box stuff we tried to be more advance by doing it in the animal. First in a turtoise, we  tried to approach from coeloem cavity and cloaca. Apparently It was very hard and tricky to access turtoise from coeloem cavity. Because we need to make a “tunnel” near the empty space between hind leg muscle and some tissue for the scope. What we did just direct a forcep into that empty space and pop it through inside,then open the forcep the clear-opened the tissue under. Its not that easy as said. Because even when you succeed to pop it, you need to drive the scope through the tissue until reach the visceral organ. And many vet failed from this phase. But when you succeed, you can just sightseeing in the turtoise internal. Then we identified the organ one by one. We found the liver and planned to made biopsy. It’s difficult actually to do it in turtoise. Smaller field and restricted. Since it’s smaller, we couldn’t put more instrument inside. Even if we could, it’s the flexy one and attached in the scope. So it’s one man job to do.

In lizzard, we use the monitor lizzard. We made a trochar punction in the midline as the access point, then we were inside. Explored organ by organ,sexing the lizzard then making a biopsy inthe liver. Since it’s bigger than turtoise, two people collaborate to managed a biopsy. First adding another instrument, which is forcep, by making a trochar punction in the other side. Then some sort of communication and work happen until the biopsy succeed.

In snake, we use the pyhton. First we start from the GI tract. We inserted the the endoscope, the flexy one, through the oesophagus. One person straighten the snake the other insert and operate the endoscope. There were the directional controller and also the water-air controller. During each cavity we’ll see the tissue surface. The other approach was, accessing the internal from essex, the pre gastric cavity region. From essex we could go through the lung tissue by moving cranially. The access point about 2 inch (could be more, depend what we look for) before the end of essex. We made a little incision in the skin under the ribs,  so the trochar could easilly insert. Punction done with 45 degree angle while the snake being inflate. If we reached the right spot, air went out from the trochar sheet, then we just put the scope inside the body. Place it cranially and we’ll meet the essex wall and also the lung wall in front of it. It’s very unique to differ the wall, especially the hexagonal shape of the lung wall..so beautiful…liver also could be seen under the cavity. So cool methode, but quiet difficult to try.

All of the animals were anasthetize,so it’s very safe. This is cool workshops anyway. I hope i had more chances for this method practice and training. I believe this is a great workshop. But in the end, there was a problem in Singapore, which is a price of a certificate is very expensive. Even i paid the workshop very expensive, i still didn’t get any certificate.

But it’s quiet fun experience anyway..so..whatever..

image

image

image

image

6th ASZWM meeting 2013

1 Nov

Hi earth!how ya doin’?is it cool?bet you do. So this week lately kinda cool and fun but also lame in the same time. But it’s life anyway, we can’t just have it fun all the way. Some lousy moment need to make ourself keep steady and alive. Well  haven’t you know that actually I just got a great moment for my profession and passion? Yep, I attend again an event abroad that very important for my work. Again, it’s the ASZWM event, it’s their 6th meeting and held in Singapore. From the very first time,last year when i heard the news, i kinda not too interested. But this kind of event is good to push me to work a paper more and more. Yep, when i’m trying to attend a conference, i always push mysef not just to be a spectator. I need  and I have to involved deeper in the show. Last year I did it. This year? Well I did it again. I got 2 papers accepted to be presented in the event. Well actually one of the paper is the first one that the committee received for this event. I got too excited huh?

But then I realized that it isn’t enough just to send a paper. To attend the event,  I have to prepare money to go there. And it’s Singapore anyway, an expensive country to visit. My very first plan to prepare the expense is to look some donation and sponsors. I’m flooding proposal to may peoples. Most fo them are my friends, relatives and colleague in wildlife NGO or zoo.  Most of them can’t help me, most of them trying to help me to connect me with their other relatives, some of them also not reply it. So… I made a second plan which is drained my bank account..It needs about 800US $ for everything, but the most expensive fare is the conferences and their additional wetlab workshop (reptile endoscopy) which i have to attend also.And it’s as same as my 4months salary.:(.. So here it went my money, sucked to the registration,hotel and airplane. Almost at the end of my broke, there was a great news from a friend in New Zealand who could collect money to help me. Thanks to Vanessa Rowe and friends from the Animal Welfare Trust New Zealand. Felt so relieve for that..And after that i could just focus everything for the presentation. One oral presentation about fracture case report and one poster presentation about epidermoid cyst case report. The problem is, the other papers werre pushing me down..the other topics were just too good compared to mine. I shouldn’t take the oral presentation, but..whatever..
I managed everything for the presentation. And there went the insuffiency data to present like pictures. I’m dead. So it’s a not too good topic to present, compared the others, and it’s a handicap presentation due the lack of data to preserve. Fucked me. Then there came another bad news, which is my sponsors fund haven’t reach to my office’s bank account. I didnt have any money left to booked a hotel,paid the poster and save some for urgent things in Singapore. Third plan,owe some money to my parents!LOL..but luckily, at the edge of D-3 Day, the sponsors reach me…!yeaaay..so i can pay my owe and relax..fiuh..print my poster and i’m ready to goooo!!!

So I landed in Singapore earlier.just to make sure i know the condition better. Only 4 peoples from Indonesia attend the event. There were me, girls from IAR : Ayu and Wendi and surprisingly my junior colleague from the university , Eliza! It’s been very long time not to meet her!After worked in Rhino project, she moved to Lao,in an animal rescue center project. D-day come, the event’s place are very far, but thank God they give a special bus pick up and delivery service..It’s combined conference anyway, SVA, ASZWM and also UPVA. The sponsors are huge one..Royal Canin, Hills and many famous brand (which is funny). Would be funnier also when they give a goodie bag (read : a royal canin travel bag fully loaded with shirt,kits, brochures, postman bag and some products), totally awkward to see a wildlife medicine conference like this. But we finally knew why we had to pay it very expensive…Opened by greetings from those association leaders, then some keynote speakers about wildlife and conservation medicine. The coffee break were good, the meals fantastic, but the coffee weren’t, the serve kinda messed up. And getting closer to my presentation time, things were so thrilling….my laptop failed to steady couple times with many bonus of blue screen..but finally copied to the committee..The show must goes on anyway..eventhough i’m totally afraid and doubting my own presentation, i’m so sleepy, the audience getting less and less..it’s such a lame presentation,embarassing one maybe…but at one point, i have to proud of it. because not everyone were so brave and silly like me. Not everyone smart enough to write a simple papers like me. The fact that the board ASZWM accepted my papers is a proof that i’m sharp enough to write.  But maybe not in a good time,compared with the others. It’s not over yet for that day. Because i got pointed as a chairman by the board at the 2nd session of primate. Well i’m late but I  got very excited to arrange the speakers. And it’s done. Thank God 😀
In the night we moved to Singapore Zoo for the opening dinner. The food were not that good, but we were kindly entertained by short trip of night safari!yeaaay…!!but actually Safari Parks Indonesia were better,they should arrange the night safari also. The best point of the Singapore Zoo is their animal hospital,Polar bear and the close distance enclosure to visitors. They run a very good management and trained the animal very well. They trained the orangutan to easilly gave their hand to the vet, being taken the blood so easilly also without any stress or even anasthethics.Great huh?Well it’s kinda great experience to have a short visit to that zoo actually.

The 2nd day were more kind. We didnt have to wake earlier to reach the bus pick up. But i’m running more and more sleepy..got a coffee shot many times but it didn’t works.damn. Many interesting case and presentation, one of it of coures, Dr. Paolo Martelli. This man is a field practicioner who always try to explore everything. He likes to develop his vet med skills with many cool and sophisticated gadgets and applied in the field, especially in the wild animal health. This doctor is one of the awsome doctor i’ve ever seen in my life. So i’ll add him in my vet idol list anyway (actually since last year :D)..Reaching more lame topic abour DNA…and we decide to moved to UPVA stream. UPVA stands for Unusual Pet Veterinarian  Association. At the first I kinda underestimate it. Since sometime i don’t respect for unusual animals that kept as a pet. Anyway, the topics were  very interesting, so clinical. I thought if you seek for case experiencing of many special species, it worthed to be attend. Hahahaha…Finally we reached at the end of the event. Somehow every good experience at this event turn to flopped. Baaad all the time. The closing conference were bad. The committee prefer to end it in a big dinner, which we have to pay 60$ again to attend it. Lame. Then the committee doesn’t really care for the rest of participants who didn’t join the dinner, especially for the bus service and it’s rain at that time. Luckily one of the committee feelin’ sorry for us, so he managed a bus to take us home, an empty bus that actually rent for the dinner event..And the worst for this expensive event is…..they didn’t give you any certificate..not only for the presenters but also for the whole participants..which was weird..because last year at Thai, the cheaper event one but similar,gave certificate to each participant. Tried to ask the committee, they refer it to the ASZWM boards..Tried to contact them, no respons..Just found one interesting thing,the most expensive thing in Singapore isn’t a hotel price, or the food, or any other transportation..but a certificate.great. Ok, another lesson to learn guys. 

image

image

image

image

image